Suatu kerjasama yang baik akan menghasilkan suatu hal yang
berguna. Hubungan tersebut tidak akan hilang jika diantara keduanya saling
menjaga antara satu dengan yang lainnya. Indonesia dan Jerman merupakan negara yang
kaya akan kebudayaan. Sudah banyak hasil karya dari negara ini untuk
melestarikan masing-masing negaranya. Misalnya saja karya sastra, seni musik,
seni tari, teater dan masih banyak yang lainnya.Tidak dipungkiri lagi jika
diantara kedua negara ini saling memiliki ketertarikan terhadap budaya antar
negara tersebut. Kegiatan
Kebudayaan Indonesia-Jerman
Berawal
dari kunjungan Kanselir Jerman Helmut Kohl ke Indonesia pada tahun 1996
menghasilkan banyak kesepakatan dalam mempererat hubungan diplomatik antara
negara Indonesia dan Jerman. Salah satunya yaitu mendirikan Komisi Bahasa
Indonesia-Jerman yang berdiri pada tahun 1997 lalu. Berdirinya komisi ini
menunjukkan bahwa dalam upaya membangun hubungan diplomatik antara
Indonesia-Jerman tidak hanya melalui dilakukan lewat ekonomi dan politik,
tetapi juga perlu dilakukan lewat diplomasi budaya yang berjalan seimbang.
“Saya
salah seorang di antaranya, yang ikut mendirikan Komisi Bahasa pada tahun 1997
lalu. Kedudukan saya di situ semacam ahli atau penasihat. Komisi bilateral ini
didirikan atas prakarsa Kanselir Jerman Helmut Kohl dan Presiden Indonesia
Soeharto,” ujar Dr. Berthold Damshauser dalam percakapannya dengan “PR”, Minggu
(22/7), lewat saluran telefon. Saat ini, ia tengah berada di Pekanbaru, Riau,
bersama dengan penyair Agus R. Sardjono.
Pertemuan
antara kedua pemimpin negara ini sungguh menghasilkan kesepakatan yang baik.
Kanselir Jerman dan Presiden Indonesia waktu itu bernama soeharto memiliki
kesepakatan untuk mempererat hubungan diplomatik, baik ekonomi, politik dan
budaya. Hingga saat ini pun hubungan kerjasama itu berlanjut. Masing-masing
negara perlu membicarakan hal ini agar tujuannya dapat berjalan seimbang.
Sering kali kegiatan budaya seperti ini melibatkan orang-orang Indonesia maupun
Jerman untuk berpartisipasi dan ikut campur tangan meramaikan suasana keindahan
ini. Tak jarang kegiatan budaya ini sering dilakukan di kota-kota besar di
Indonesia maupun Jerman.
Perubahan
situasi politik yang terjadi sejak tahun 1998, membawa Indonesia pada suatu
perkembangan kebudayaan yang dinamis. Dalam hal mana Goethe-Institut Jakarta
(yang memiliki cabang di kota pelajar Bandung) memiliki peranan yang penting.
Goethe Institut mengorganisir berbagai kegiatan dalam hampir segala bidang
kebudayaan. Seperti musik, film, pameran, tari maupun teater. Proyek-proyek
tersebut tidak terbatas hanya sebagai perantara kebudayaan Jerman, tetapi
dengan ikut sertanya seniman dan seniwati Indonesia pada lokalkarya dan
semacamnya, dengan berlangsungnya kegiatan ini terjalinlah suatu dialog yang
hidup antar dua kebudayaan. Dalam lingkup yang lebih kecil Kedutaan Besar
Jerman juga menyelenggarakan berbagai konser dan pameran.
Para
Seniman Indonesia- Jerman
Jika
dikaitkan dengan hubungan bilateral tersebut, masing-masing negara akan dapat
mengetahui dan mempelajari segala bidang kebudayaan negara Indonesia maupun
Jerman. Banyak seniman dari Indonesia maupun Jerman yang memiliki keahlian
maupun bakat yang harus dilestarikan. Kerjasama ini bukan hanya memberikan
keindahan melainkan juga memberikan semangat para pemuda Indonesia dan Jerman
untuk dapat terus berkarya.Seniman dari Indonesia seperti Chairil Anwar
(angkatan 45), Amin Pane (Pujangga baru), Amir Hamzah (Pujangga baru), Sanusi
Pane (pujangga baru), Taufik
Ismail
(angkatan 66) dan lainnya yang ahli dalam bidang sastra. Chairil Anwar dalam
puisinya yang terkenal dengan judul “AKU”,“Taman”,”Kerikil Tajam”,”Derai-Derai
Cemara”,”Yang Terhempas dan Yang Putus”, Amin Pane dengan karya “Jiwa Berjiwa”,
“Belenggu”, Amir Hamzah dengan karya “Buah Rindu Nyanyian Sunyi” , Sanusi Pane
dengan karyanya yang berjudul “Manusia Baru” dan Taufik Ismail “ Tirani dan
Benteng”.
Adapun
tokoh seniman Indonesia dalam bidang seni musik yaitu seperti Ebit Gade, Iwan
fals, Crisye, Erwin Gutawa dan masih banyak seniman lainnya.Kemudian aneka
ragam seni tari berupa Tari Kecak dari Bali, Tari Piring dari Padang, Tari
Tor-Tor dari Batak dan masih banyak lagi tari-tarian yang memberikan keindahan
disetiap daerah di Indonesia. Begitu juga sebaliknya, di dunia sastra -Goethe,
Schiller, Kafka, Grass- dunia musik -Bach, Mozart, Beethoven, Wagner- filosofi,
-Luther, Kant, Schopenhauer, Nietzsche-, atau psikologi, -Freud, Adler, Jung-
atau juga dunia penelitian dan pengetahuan -Kepler, Einstein, Rőntgen, Planck-.
Para
seniman Indonesia juga mampu menterjemahkan bahasa asing kedalam bahasa
Indonesia dalam bentuk sastra seperti puisi, cerita dan sebagainya. Begitu juga
sebaliknya, Jerman juga dapat menterjemahkan bahasa Indonesia kedalam bahasa
mereka dalam bentuk tulisan sastra. Sungguh hubungan bilateral ini berjalan
dengan baik. Dari dua budaya tersebut masing-masing negara dapat menilai
kekhasan serta keunikan baik dari negara Indonesia maupun Jerman.
Seperti
halnya dengan kerjasama Dr. Berthold Damshauser asal Jerman dengan penyair
Indonesia Agus R. Sardjono yang mengadakan peluncuran buku puisi seri
Indonesia-Jerman karya penyair klasik Jerman Johann Wolfgang von Goethe yang
diberi judul “ Satu dan Segalanya.” Di Goethe Institut Bandung, jln. L.L.R.E.
Martadinata No. 48 Bandung. Sebelumnya kedua penyair dari kedua negara ini
telah menterjemahkan karya penyair Rainer Maria Rilke (2003) Bertolt Brecht
(2004) dan Paul Celan (2005) kedalam bahasa Indonesia.
Kehidupan
budaya di Jerman mempunyai banyak segi. Terdapat sekitar 300 teater tetap dan
130 orkes profesional antara Flensburg di utara dan Garmisch di selatan. 500
museum seni rupa dengan koleksi beraneka ragam yang bertaraf tinggi menurut
ukuran Internasional membentuk jaringan unik. Seni lukis muda juga sangat hidup
di Jerman dan telah mendapatkan tempat di dunia Internasional. Dengan sekitar
95.000 judul buku yang diterbitkan atau dicetak ulang tiap tahun. Jerman juga
tergolong negara perbukuan yang besar. 350 judul surat kabar harian dan ribuan
judul makalah membuktikan perkembangan dunia media yang baik. Sukses baru juga
tercatat oleh produksi film. Tidak hanya di bioskop Jerman melainkan di
berbagai negara di dunia musik.
Nama
baik Jerman sebagai negara musik tetap terkait dengan nama pengubah seperti
Bach, Beethoven, Brahms, Handel dan Richard Strauss. Mahasiswa datang dari
seluruh dunia untuk belajar di perguruan tinggi musik, pencinta musik
mengunjungi festival-festival dari festival Wagner di Bayreuth sampai
Donaueschinger Musiktage untuk musik kontemporer. Di Jerman terdapat 80 teater
musik yang dibiayai oleh dana publik, yang terkemuka diantaranya gedung opera
di Hamburg, Berlin, Dresden dan München serta di Frankfurt am Main dan Leipzig.
Dalam persaingan untuk merebut hadiah tahunan “Opernhaus des Jahres” yang
diberikan oleh para para penulis resensi, belakangan ini gedung opera Stuttgart
paling sering berhasil. Orkes Filharmoni Berlin pimpinan dirigen Inggris
terkenal Sir Simon Rattle dianggap sebagai yang terbaik diantara sekitar 130
orkes di Jerman. Kelompok “Ensemble Modern” di Frankfurt memajukan produksi
musik kontemporer dengan mementaskan sekitar 70 karya baru pertahun,
diantaranya 20 pagelaran perdana. Disamping dirigen kondang seperti Kurt Masur
atau Christoph Eschenbach ada pemimpin orkes yang menonjol di generasi lebih
muda yaitu Ingo Metzmacher dan Christian Thielemann. Penyanyi dan pemain
instrumen yang tergolong paling baik didunia adalah Waltraud Meier, Soprano,
Thomas Quasthoff, Bariton dan pemain klarinet Sabine Meyer. Pemain biola
Anne-Sophie Mutter tampil dimuka publik yang sangat besar dan yang tidak selalu
menikmati musik klasik saja.
Sejak
tahun 1950-an, perkembangan musik kontemporer ikut ditentukan oleh pelopor
musik elektronis Karlheinz Stockhausen dan antipodenya yang mempertahankan tradisi
komponis Opera Hans Werner Henze. Dewasa ini musik kontemporer memadukan
beberapa gaya : Heiner Goebbels menghubungkan musik dengan teater, Helmut
Lachenmann menelusuri kemungkinan ekspresi instrumen sampai ke batas ekstrem.
Wolfgang Rihm menunjukkan kemungkinan perkembangan kearah musik yang lebih
mudah dipahami. Disisi lain spektrum musik ada penyanyi pop seperti Herbert
Grönemeyer, yang meraih sukses sejak bertahun-tahun dengan lagu-lagu berbahasa
Jerman. Sama halnya dengan kelompok musik punkrock “Die Toten Hosen”, grup
hip-hop “Die Fantastisch Vier” dan “Tokio Hotel”. Selama beberapa tahun
terakhir ini, seniman muda seperti penyanyi Xavier Naidoo (“Söhne Mannheims”)
berhasil dengan mengacu pada gaya soul dan rap Amerika Serikat. Sukses grup
musik “Wir sind Helden” dari Berlin akhir-akhir ini menimbulkan gelombang
pendirian grup musik Jerman muda. Pendirian “Akademi Pop” di Mannheim
memperlihatkan kemauan politik untuk meningkatkan daya saing musik pop Jerman
digelanggang Internasional.
Terjemahan
Karya Sastra
Pada
waktu acara peluncuran buku, salah satu puisi Goethe yang diterjemahkan ke
dalam bahasa indonesia yang berjudul “Yang Sepadan” Larik demi larik puisi
tersebut berbunyi : Di puncak segala/ Sentosa bertakhta,/ Di puncak segala/
Nyaris tiada/ Sehembus pun bayu kau rasa/ Senyap burung-burung di hutan/ Sabar
kan segera tiba masa/ Engkau pun istirah sentosa/
Menurut
Dr. Berthold Damshauser, didirikannya Komisi Bahasa Indonesia-Jerman antara
lain bertujuan untuk memperkenalkan lebih luas karya sastrawan masing-masing
negara yang diterjemahkan ke dalam bahasa masing-masing negara yang membangun
hubungan diplomatik tersebut dalam konteks budaya.
“Ketika
komisi ini akan didirikan, saya sempat menunjukkan kekurangan dalam hubungan
sastra, terutama langkanya buku terjemahan sastra Jerman dalam bahasa Indonesia
dan sebaliknya. Ternyata Helmut Kohl cukup peduli terhadap masalah sastra,
khususnya pertukaran sastra antara Indonesia dan Jerman, sehingga ide
pembentukan satu komisi yang akan menangani tema itu bersedia ia sampaikan
kepada Pak Soeharto yang langsung menyetujuinya. Tujuan atau tugas utama komisi
bilateral ini, yang beranggotakan kementerian dan lembaga kedua negara antara
lain Departemen Luar Negeri, Departemen Pendidikan, Kedutaan Besar, Pusat Bahasa,
Goethe Institut, ialah untuk saling memperkenalkan karya susastra Indonesia dan
Jerman melalui terjemahan ke bahasa Jerman dan bahasa Indonesia,” ujarnya.
Terjalinnya
kerjasama antara Indonesia-Jerman lewat program terjemahan sastra memberikan
pengalaman yang segar bagi para apresiator Indonesia dalam memahami karya
sastra asing secara lebih mendalam.
“Di
kalangan intelektual Indonesia, apalagi pada masa-masa awal sastra Indonesia,
nama Goethe bukanlah nama yang asing. Beberapa penyair, sastrawan, dan
intelektual kerap mengutip penggalan sajak atau ungkapan Goethe dalam tulisan
mereka. Hal semacam itu perlu dibangun lebih lanjut agar hubungan diplomatik
Indonesia dan Jerman bisa lebih mesra lagi,” ujarnya.
Lebih
lanjut Agus R. Sardjono mengatakan, diterjemahkannya puisi Goethe ke dalam
bahasa Indonesia disebabkan ketokohan Goethe dalam bidang sastra memang tidak
diragukan lagi. Selain itu, Goethe tidak hanya dikenal sebagai penyair, tetapi
juga dikenal sebagai penulis lakon drama yang tangguh pada zamannya.
Seorang
Universalis
Berkaitan
dengan sosok Goethe sebagai sastrawan Jerman, Goethe merupakan salah seorang
tokoh yang cukup gemilang dalam sejarah sastra dunia. Ia merupakan pujangga
Jerman terbesar pada zamannya. Goethe dipandang sebagai pahlawan budaya
Nietzsche filsuf Jerman generasi berikutnya mengatakan bahwa Goethe adalah
kebudayaan.
“Goethe
bukan hanya pujangga besar. Lebih dari itu, ia seorang universalis yang dapat
dianggap sebagai genius universal pamungkas yang setara dengan Leonardo da Vinci
yang bukan hanya hebat sebagai pelukis saja. Goethe pun bukan hanya hebat
sebagai sastrawan, ia seorang filsuf, pelukis, budayawan, saintis, dan bahkan
penemu. Selain itu ia juga dikenal sebagai politikus yang tangguh dan negarawan
yang cemerlang pada zamannya,” papar Berthold.
Dan untuk memeringati 60 tahun hubungan Indonesia
dengan Jerman juga diadakan pameran lukisan Raden Saleh, maestro lukis asal
Indonesia, menjadi salah satu simbol hubungan antara Indonesia dan Jerman.
Pelukis terkenal yang dianggap pionir seni lukis modern Indonesia itu pernah
20 lamanya tinggal di Jerman pada abad ke-19. Tak heran bagi banyak orang,
dia dianggap setengah Indonesia dan setengah Jerman.
Pionir Hubungan Budaya
Pameran lukisan karya Raden Saleh akan menjadi puncak
rangkaian acara peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Jerman. Direktur Goethe
Institute Franz-Xavier Augustin mengatakan, Raden Saleh, pelukis Jawa yang
sangat terkenal itu, pernah hidup 20 tahun di Jerman dan sangat
terpengaruh dengan seniman Romantik Jerman di Dresden, Saxonia. Raden
Saleh, kata Augustin, mungkin juga adalah orang pertama yang benar-benar
melakukan pertukaran budaya diantara Indonesia-Jerman.
Franz-Xavier Augustin mengatakan, pameran ini akan
secara lengkap menghadirkan karya sang maestro Raden Saleh. Karya pelukis
bergaya romantis itu akan didatangkan antara lain dari koleksi Istana
Presiden, Istana Sultan Jogjakarta serta beberapa koleksi pribadi yang belum
pernah dilihat publik.
interesting articel. hubungan baik antara Indonesia dengan Jerman mampu membawa dampak positif di segala bidang.
BalasHapusArtikelnya sudah cukup bagus.
BalasHapusKita jadi tau bahawa hubungan antara indonesia - jerman memegang peran yang cukup besar, di beberapa bidang seperti politik, ekonomi, keamanan dan khususnya di bidang seni.
Kita sama-sama berharap hubungan dengan jerman bisa lebih erat dan saling menguntungkan di bidang lainnya.